KA Library…

ARTIKEL

Peran TI Dalam Pengembangan Usaha di Indonesia
Dari hasil sejumlah riset, terlihat bahwa penetrasi TI di sektor UKM masih sangat rendah. Jikapun ada beberapa UKM yang telah berhasil menerapkan konsep TI, biasanya masih berada pada tahap awal dalam metode penerapan dan pengembangan konsep e-Business (infancy stage), karena masih sebatas dipergunakannya fasilitas dasar semacam email, website, dan chatting untuk membantu aktivitas sehari-hari. Penilian sejumlah pakar memperlihatkan masih sedikitnya UKM yang dapat menemukan konteks manfaat TI bagi usahanya. Padahal banyak sekali fungsi TI yang dapat membantu UKM. Contohnya adalah sebagai berikut. Pada saat ini salah satu problem besar dari UKM adalah kekurangan modal; dimana mereka sangat sulit mendapatkan akses kepada calon pemodal atau investor yang bersedia bekerja sama. Jelas dengan teknologi TI, mereka dapat mempromosikan UKM-nya maupun berhubungan dengan sejumlah pemodal dan investor yang ada di seluruh dunia secara cepat, mudah, dan murah.

Tips dan Trik Memilih Jurusan Komputer
Perlu kita garis bawahi dulu bahwa “secara konsep” kurikulum bidang komputer di Indonesia sudah cukup baik. Kurikulum Indonesia mengacu dan mengadaptasi Computing Curricula, yaitu panduan kurikulum bidang komputer (computing) yang diterbitkan secara bersama oleh ACM (the Association for Computing Machinery), AIS (the Association for Information System) dan IEEE-CS (the IEEE Computer Society). Beberapa dokumen usulan kurikulum yang diajukan APTIKOM (Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer) saya lihat juga mengacu ke Computing Curricula 2001 dan 2005.
[Computing Curricula]

Wajibnya Skill Coding Bagi Mahasiswa Computing

Lemahnya skill coding mahasiswa di Indonesia adalah penyakit gawat, menular, mematikan dan secepatnya harus diberantas tuntas . Mungkinkah ini juga yang membuat produksi software kita secara kuantitas dan kualitas dibawah negara tetangga kita? Ingat bahwa menurut laporan IDC dan Gartner, jumlah developer professional Indonesia mencapai 71.600 orang di tahun 2008. Jumlah developer kita tiga kalinya malaysia dan empat kalinya singapore loh

Cara Lugu Menyikapi Gap Akademi-Industri
Gap akademi-industri adalah masalah turun temurun yang memang tidak begitu mudah dipecahkan. Negara-negara maju dengan level penelitian tingkat tinggi seperti Jepang dan Amerika-pun tetap menganggap ini sebagai isu penting, yang kalau diperdebatkan bisa tanpa akhir, never ending story Sempat menjadi topik hangat di berbagai jurnal internasional, dipanas-panasin oleh Research Policy terbitan Elsevier Science, dikupas tuntas oleh Journal of Higher Education, dan dinyanyikan dengan indah oleh National Science Board (NSF) yang menyusun paper menarik berjudul University-Industry Research Relationships di tahun 1986.

Meluruskan Salah Kaprah Rekayasa Perangkat Lunak

Sejarah munculnya Rekayasa Perangkat Lunak sebenarnya dilatarbelakangi oleh adanya krisis perangkat lunak (software crisis) di era tahun 1960-an. Krisis perangkat lunak merupakan akibat langsung dari lahirnya komputer generasi ke 3 yang canggih, ditandai dengan penggunaan Integrated Circuit (IC) untuk komputer. Performansi hardware yang meningkat, membuat adanya kebutuhan untuk memproduksi perangkat lunak yang lebih baik. Akibatnya perangkat lunak yang dihasilkan menjadi menjadi beberapa kali lebih besar dan kompleks. Pendekatan informal yang digunakan pada waktu itu dalam pengembangan perangkat lunak, menjadi tidak cukup efektif (secara cost, waktu dan kualitas). Biaya hardware mulai jatuh dan biaya perangkat lunak menjadi naik cepat. Karena itulah muncul pemikiran untuk menggunakan pendekatan engineering yang lebih pasti, efektif, standard dan terukur dalam pengembangan perangkat lunak.

Tinggalkan Balasan